Abstrak

Wanita memiliki keunikan fisiologis yang terletak pada tugas reproduksi  yang diembannnya. Selain secara fisik, terdapat keunikan sosial dan emosional yang sangat mempengaruhi pola fisiologis sistem reproduksi maupun pola perilakunya. Secara garis besar, semenjak pubertas wanita meangalami menarche, menstruasi, kemungkinan kehamilan, klimaktorium, menopause, dan senilium. Olahraga dan intensitas aktivitas fisik lain secara umum dapat mempengaruhi fisiologis reproduksi wanita. Olahraga dengan intensitas sedang sangat dianjurkan untuk fisiologis reproduksi wanita, sedang olahraga dengan inansitas yang sangat tinggi serta aktivitas sedentary akan menghambat fisiologi reproduksi wanita.

Kata Kunci: wanita, reproduksi, olahraga.

Seperti halnya dengan makhluk hidup yang lain, manusia juga terbagi menjadi jenis kelamin laki-laki dan perempuan/awanita. Pada manusia, wanita akan mengalami menstruasi/datang bulan, kemungkinan hamil, melahirkan dan menyusui. Pengalaman-pengalaman tersebut merupakan hal yang melekat, bukan hanya karena wanita ditandai oleh ciri-ciri tersebut, tapi juga diberi label baik secara emosinal maupun sosial dengan hal tersebut. Terdapat banyak hal yang mempengaruhi fisiologi reproduksi sepanjang perkembangan hidup wanita baik secara biologis maupun secara psikis. Aktivitas fisik merupakan salah satu hal diantaranya. Tulisan ini akan mengulas pengaruh aktivitas fisik terhadap perkembangan reproduksi wanita.

Tahapan Fisiologi Reproduksi Wanita dan Pengaruh Olahraga

  1. Menarche
  2. Fisiologi Menarche

Kekhususan sistem reproduksi wanita terjadi pada masa pubertas yang ditandai dengan timbulnya menarche (menstruasi untuk pertama kalinya), pada usia sekitar 9-14 tahun. Biasanya, setelah menarche biasanya mengalami perlambatan pertumbuhan tinggi badannya, pertubuhan berat badanya bertambah/melebar. Setelah menarche, wanita akan betambah tinggi sekitar 2 inchi. Terdapat penelitian yang menyimpulkan bahwa rata-rata dalam 18 bulan setelah menarche, terjadi percepatan pertumbuhan hingga mencapai puncak maksimum. Walupun demikian, hasil akhir pertumbuhan anak laki-laki lebih tinggi dibanding anak perempuan, karena masa percepatan pertumbuhananak laki-laki lebih panjang/lama dibanding anak perempuan. Wells (1985:17) menyatakan bahwa tinggi badan rata-rata wanita dewasa lebih pendek, berat badan lebih ringan dan persentase lemak tubuh lebih besar dibanding laki-laki dewasa. Pria dewasa mempunyai bahu yang lebih lebar, pinggul lebih ramping, dan lingkar dada lebih luas dibanding ukuran relatif tubuhnya. Perbedaan tersebut mulai muncul pada masa pubertas. Kejadian yang dialami perempuan dalam masa pubertas ialah percepatan pertumbuhan, timbulnya ciri-ciri kelamin sekunder, menarche, dan perubahan psikis.

Apa yang menjadi peanyebab munculnya masa pubertas belum diketahui, yang diketahui adalah bahwa ovarium mulai berfungsi dibawah pengaruh hormon gonadotropin dari hipofisis. Dalam ovarium, folikel mulai tumbuh, dan walupun folikelfolikel tersebut tidak sampai menjadi matang karena sebelumnya mengalami atresia, namun folikel-folikel tersebut sudah sanggup mengahsilkan estrogen. Kira-kira pada waktu yang bersamaan, kelenjar korteks supra renal mulai memproduksi androgen, dan hormon tersebut memainkan peranan yang penting dalam pertumbuhan badan/tubuh (Muzyyanah, 2002). Semenjak munculnya menarche, maka semakin nyata perbedaan fisik yang mendasar antara pria dan wantia. Wells (1985:33) menyatakan bahwa wanita mempunyai volume darah, jantung dan rongga dada yang lebih kecil, jaringan paru-paru lebih sedikit, dan serabut otot yang lebih kecil dibanding pria. Hal – hal tersebut menyebabkan perbedaan kinerja antara wanita dengan pria.

Tentu saja percepatan pertumbuhan tidak hanya akan pertumbuhan skelet/rangka. Pertumbuhan otot, sejalan dengan pertumbuhan jumlah dan distribusi lemak, akan mengubah komposisi tubuh orang dewasa. Paru-paru bertambah ukuran dan kapasitasnya, dan jantung menjadi dua kali lipat beratnya. Perut/lambung, ginjal dan volume darah mencapai ukurang tingkat keberfungsian orang dewasa pada akhir masa percepatan pertumbuhan. Kekuatan dan daya tahan juga meningkat, terutama pada anak laki-laki. Pada anak laki-laki juga terjadi peningkatan kemampuan untuk menetralisir sampah kimia seperti asam laktat yang dihasilkan karena latihan (aktivitas fisik) yang menyababkan nyeri otot dan kelelahan. Dengan demikian sangatlah wajar jika anak perempuan lebih lemah dan lebih cepat lelah. Sebagian organ tubuh tidak mengalami percepatan pertumbuhan. Hingga awal masa remaja. Tonsil dan adenoid, kelenjar limfa, dan masa limfa intestinum secara betahap sudah meningkat ukurannya, setelah itu melambat dan berhenti tumbuh.

  1. Olahraga dan Menarche

Para atlit perempuan mengalami pengunduran usia memperoleh menarche (meraka memperoleh menarche lebih lambat). Anak yang sudah mulai aktif jauh sebelum usia rata-rata memperoleh menarche, akan lebih lambat memperoleh menarche dibanding yang mulai aktif latihan setelahnya atau lebih lambat. Sementara Muzayyanah (2002) menyimpulkan bahwa masa pubertas, yang salah satunya ditandai oleh datangnya menarche merupakan masa pertumbuhan tercepat karena pengaruh hormon androgen. Sekilas ada hipotesa bahwa mundurnya masa menarche memberi kemungkinan anak perempuan mempunyai kesempatan bertambah tinggi (karena masa pertumbuhan tinggi badannya bertambah panjang). Alison & Joane (1983:395-396) menyatakan bahwa sinyal yang paling dramatis dan paling dapat dilihat saat awal masa remaja adalah percepatan pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perkembangan individu sejak anak tersebut berusia 2 tahun. Pertumbuhan tinggi terus berlangsung, sehingga anak laki-laki sudah mencapai 78% dan anak prempuan mencapai 84% dari tinggi badan mereka saat dewasa. Meskipun pertumbuhan belum akan berhenti hingga usia 18 untuk anak perempuan dan 20 tahun untuk anak laki-laki, namun anak perempuan pada usia 14 tahun dan anak laki-laki pada usia 16, sudah akan mencapai 98% tinggi badan mereka saat dewasa.

  1. Olahraga dan Menstruasi
  2. Fisiologi Menstruaasi

Menstruasi adalah proses pengeluaran darah dan cairan melalui saluran kelamin wanita (vagina) yang juga membawa sel-sel mati dari lapisan selaput lendir (lapisan endometrium) rahim (Depdikbud, 1997:20). Haid dimulai pada usia pubertas sekitar 11-12 tahun) sampai usia menopause pada usia sekitar 45-50 tahun (John Gibson, 2003:341). Masa/periode bulanan tersingkat (sedikit) adalah sehari semalam (24 jam) dan paling lama 15 hari. Walaupun demikian, wanita pada umumnya mengeluarkan darah haid selama 6 atu 7 hari. Interval siklus haid berkisar antara 21 sampai 35 hari dengan interval rata-rata 28 hari. Menurut Derek Liewellyn-Jones (2002:13), haid adalah pengeluaran darah, cairan jaringan dan debris sel-sel endometrium dari uterus dalam jumlah yang bervariasi.

  1. Olahraga dan Menstruasi

Pada sebagian orang/anak, menstruasi dapat menimbulkan masalah-masalah seperti kram/nyeri perut, mual, pusing/sakit kepala, nyeri pinggang, pegal-pegal pada tungkai, gejolak emosional dan munculnya jerawat. Bila hal tersebut terjadi, maka olahraga (aktivitas fisik) akan terganggu. Sehingga dianjurkan untuk mengurangi atau mengganti dengan latihan/olahraga ringan sepeti jogginga atau jalan, dan tidak dianjurkan untuk pasif sama sekali bila kondisi tidak meamaksa. Jika wanita tersebut “normal” atau tidak mengalami gangguan-gangguan tersebut, maka tidak ada anjuran untuk mengurangi bahkan menghentikan olahraga/latihan selama masa meanstruasi. Amenorhea, adalah keadaan tidak dialaminya meanstruasi pada saat biasanya. Sebagian wanita yang berlatih/berolahraga keras (dengan intensitas tinggi), kemungkinan tidak memperoleh menstruasi untuk satu siklus atau lebih. Dicuragai yang menjadi penyebab antara lain : kerasnya latihan meningkatkan kadar hormon androgen, penurunan fungsi ovari, dan kurangnya kadar lemak tubuh. Bisa juga karena konsumsi obat penunda menstruasi.

  1. Kehamilan
  2. Fisologi Kehamilan.

Kehamilan merupakan pengalaman yang tidak kalah untiknya dibanding menarche dan menstruasi. Keunikan tersebut ada yang sangat dinikmati, namun ada juga yang dianggap sebagai beban dengan berbagai alasan. Secara fisik, wanita yang hamil akan mengalami kerepotan-kerepotan fisik seiring dengan bertambahnya usia kehamilan/kandungan. Kehamilan biasanya juga akan meningkatkan berat badan. Pada akhir trimester pertama, sebaiknya penambahan berat badan berkisar antara 1-2 kilogram, sementara berat janin sekitar satu ons. Selanjutnya berat badan bertambah 0,5 kilogram per minggu. Akan tetapi banyak juga yang justru mengalami penurunan berat badan pada trimester pertama (Wells 1985:173). Penurunan berat badan pada kehamilan trimester pertama biasanya dialami oleh wanita yang “ngidam”, yang mengalami gangguan pusing, morning sickness , dan penurunan nafsu makan. Janin pada masa kehamilan trimester pertama juga masih labil, sehingga wanita tersebut harus lebih berhati-hati menjaga kehamilannya..

  1. Olahraga dan Kehamilan

Kemampuan konsumsi oksigen wanita hamil tidak mengalami perubahan. Namun setiap beban latihan akan lebih menaikkan volume ventilasi per menit, juga akan menurunkan kadar oksigen pembuluh darah arteri. Kehamilan meningkatkan jumlah detak jantung per menit pada saat istirahat, sementara olahraga/latihan yang baik dan benar justru akan menurunkan jumlah denyut nadi istirahat. Meskipun demikian, dosis dan intensitas latihan sebaiknya diturunkan seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Olahraga ringan menyebabkan diproduksinya glukagon, norepinefrin, dan epinefrin. Dengan recovery/istirahat 30 menit setelah latihan, tidak ditemukan perubahan kadar glukosa dan kortisol. Meskipun belum ada kontra indikasi, namun wanita yang sedang hamil harus lebih berhati-hati dalam melakukan latihan/olahraga. Jika terjadi ketidak-nyamanan selama latihan, sebaiknya latihan dihentikan.

  1. Klimakterium, Menopause, dan Senium
  2. Fisiologi Klimakterium, Menopause, dan Senium

Klimakterium merupakan masa peralihan antara produktif (usia kemungkinan dapat hamil) dengan masa senium. David (1984:54-56) menyatakan bahwa klimakterium adalah masa dimana wanita mengalami gejala penurunan fungsi ovarari dan sekresi estrogen. Masa transisi dengan banyak perubahan. Klimakterium datangmendahului masa menopause. Shangold & Mirkin (1988:157) menyatakan bahwa secara fragmatis masa klimakterium dibagi menjadi tiga yaitu: masa klimakterium awal (usia 35-54 tahun), peri menopause (usia 46-55 tahun), dan masa klimakterium akhir (usia 56-65 tahun).

Klimakterium bukanlah suatu keadaan patologis (bersifat penyakit), melainkan suatu masa peralihan normal, yang berlangsung mulai beberapa tahun sebelum dan beberapa tahun sesudah menopause. Ada kesulitan untuk menentukan awal dan akhir masa klimakterium, namum secara umum dapat dikatakan bahwa klimakterium mulai kira-kira 6-7 tahun sebelum menopause. Pada masa tersebut, kadar estrogen sudah akan mencapai kadar yang rendah, yang sesuai dengan kadar pada masa senium, dan gejala-gejala neuro-vegetatif sudah terhenti. Dengan demikian masa klimakterium berlangsung kurang lebih 13 tahun.

Menopause adalah menstruasi terakhir. Diagnosis menopause dibuat setelah terjadi amenorhea sekurang-kurangnya satu tahun. Berhentinya menstruasi mungkin didahului dengan pemanjangan siklus haid, dengan volume pengeluaran darah yang makin berkurang. Umur datangnya menopause dipengaruhi oleh keturunan, kondisi kesehatan umum, dan pola hidup yang di dalamnya juga mencakup pola aktivitas fiisik. Dewasa ini ada kecendeungan pengunduran usia menopause. Dengan kata lain, menopause datang pada usia yang lebih tua.

Kesimpulan sementara, ada hubungan antara usia menarche dengan usia menopause. Makin dini seorang anak perempuan memperoleh menarche, maka makin lambat anak tersebut mengalami menopause nantinya. Sebaliknya, makin lambat datang menarche akan makin cepat datangnya menopaue, sehingga masa produktifnya juga akan makin pendek. Namun demikian datangnya menarche tidak mengalami perubahan ke usia yang lebih muda lagi. Mungkin batas usia termuda untuk mengalami menarche sudah tercapai.

Menopause merupakan proses alami. Jika menopause dianggap/dipandang negatif, maka dapat menimbulkan perasaan bingung, sakit kepala, susah tidur, penurunan kemampuan konsentrasi, depresi fisik, penurunan enerji fisik dan mental, sama seperti menjelang menstruasi (Margareta, 1983:58). Bagi yang berfikir positif, mereka menganggap menopause sebagai masa pembebasan diri , terutama dari kerepotan karena menstruasi, kerepotan dengan urusan KB, termasuk kekhawatiran akan hamil atau tambah anak lagi.

Penurutan ovulasi merupakan akibat berkurangnya hormon pendukung (progresteron dan estrogen). Keadaan tersebut tidak hanya mempengaruhi organ- organ reproduksi saja, tapi juga organ-organ yang lain. Pada masa itu, perempuan masih menghasilkan estrogen dari ovarinya dan juga dari adrenal hingga 10-15 tahun setelah berhentinya menstruasi, meskipun dalam jumlah yang kecil.

Peningkatan kadar estrogen, yang berlawanan dengan estradiol, yang merupakan estrogen penting dalam masa produktif, pada masa menopausal dan masa post-menopausal, meningkatkan insiden kanker panyudara dan kanker uterin. Penurunan kadar strogen menyebabkan penurunan kemampuan reproduksi, perubahan pola produksi hormon adrenal yang sangat berguna untuk penguaraian protein. Estrogen sangat dibutuhkan dalam pembentukan protein, hanya lebih lemah pengaruhnya.

Akibat penguaraian protein, maka terjadi penurunan kualitas jaringan, seperti tulang, otot, kulit, rambut, dan kuku secara bertahap. Juga terjadi penurunan aktivitas osteoblast, sehingga matriks tulang mengalami penurunan kualitas dan terjadi penurunan proses penulangan. Selanjutnya akan meningkatkan resiko osteoporosis dan fraktur/patah tulang. Kondisi tersebut merupakan proses aging. Elemen-elemen yang perlu diperhatikan berkaitan dengan proses aging adalah sebagai berikut: (1) Proses aging berlangsung sepanjang hayat, tetapi akan lebih nyata pada masa postmenopause, (2) Aging menurunkan kapasitas fungsional sel, organ dan makhluk secara keseluruhan; (3) Aging menyebabkan penurunan elemen struktural dalam tubuh, (4) Aging menurunkan efektivitas respon terhadap faktor-faktor internal dan eksternal; (5) Aging meningkatkan kemungkinan terparah akibat disfungsi, yaitu kematian (David, 1984:4).

Senium merupakan masa tercapainya keseimbangan baru, sehingga tidak ada

lagi gangguan vegetatif maupun psikhis. Yang menyolok pada masa ini ialah kemunduran fungsi oragan-organ tubuh dan kemampuan fisik sebagai proses tumbuh kembang menjadi tua (aging). Pada masa senium ini terjadi ercepatan proses osteoporosis. Walaupun penyebabnya belum jelas betul, namun berkurangnya jumlah dan pengaruh hormon steroid, serta berkurangnya aktivitas ostoblast, memainkan peranan yang sangat penting. Sekilas nampak bahwa setelah menopause, perempuan menjadi semakin lemah. Karena menurunnya fungsi organ, termasuk fungsi syaraf, maka perempuan akan menjadi pikun, otot dan jaringan ikatnya tidak lagi lentur, menyebabkan penurunan fungsi panca indra. Proses tersebut tidak dapat dihindari, akan tetapi dapat diperlambat, sehinggaperempuan dapat menikmati masa tuanya lebih lama dengan tetap aktif. Sekali lagi, usaha yang dapat dilakukan untuk memperlambat proses penuaan adalah dengan mengatur pola hidup, termasuk latihan/olahraga dan pola makan termasuk mengatur asupan buah, sayur dan air putih. Pola hidup mencakup berpikiran posistif (positive thingking), tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial, dan tentu saja tetap aktfi berolahraga/latihan.

  1. Olahraga pada Masa Klimakterium, Menopause, dan Senium

            Aging merupakan serangkaian proes yang tidak mungkin dihindari. Namun ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk ssekedar mengurangi percepatan prosesnya. Salah satu langkah yang dapat memperlambat proses penuaan/aging adalah olahraga/latihan. Olahraga akan merangsang seluruh sistem yang ada di dalam tubuh untuk berfungsi dengan lebih baik. Sifat olahraga yang cocok untuk tujuan tersebut adalah aerobik, baik dengan alat/media maupun tidak, yang dilakukan dengan intensitas sedang, frekuensi tiga kali per minggu. Masing-masing sesi latihan berlangsung sekitar 45 menit atau lebih. Olahraga berpearan sebagai penjaga dan peningkat kebugaran jasmani secara umum. Olahraga juga berperan sebagai perangsang diproduksinya endofin (morfin tubuh). Endorfin ini akan memberi rasa segar, nyaman dan gembira. Dengan demikian juga akan mengurangi stress dan kekacauan yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan hormonal. Hanya sayangnya, wanita cenderung memilih hal-hal yang atraktif, kurang memperhatikan apa yang mestinya diperhatikan dan kondisi emosional, sehingga sering tidak memperoleh hasil yang optimal dari olahraga yang dilakukannya, seperti apa yang disampaikan oleh Davidson & Murphy (1986+ 273-278).

            Olahraga dan aging meningkatkan stress okasidatif di dalam tubuh. Proses menjadi tua/aging juga menurunkan kemampuan organ-organ , termasuk hati dan jantung, untuk berfungsi secara normal. Secara alami tubuh sudah dilengkapi dengan enzym anti-oksidan di dalam organ-organ vitalny. Di dalam sistem tertentu, seperti mitokondria atau jalur metabolisme, enzym tersebut dapat beradaptasi. Pada saat latihan berat, asupan oksigen meningkat sehingga stress oksidatif juga meningkat, sementara kemampuan menghasilkan antioksidan menurun sejalan dengan proses menua (Ji, 1993:230). Pernyataan Ji tersebut didukung oleh Alessio (1993:218) yang menyatakan bahwa jika latihan menyebabkan kenaikan asupan/konsumsi oksigen sebesar 10-15 fold dibanding saat istirahat, maka metabolisme dan stress oksidatif akan naik, yang selanjutnya akan menaikkan kadar radikal bebas yang merupakan sampah sisa metablisme. Untuk itu disaran agar orang yang terlatih agar tetap melakukan latihan dengan intensitas sedang. Lebih jauh, saran untuk melakukan latihan yang baik dan benar juga berlaku bagi semua orang.

KESIMPULAN

Wanita akan mengalami tahap-tahap perkembangan reproduksi berupa menarche, menstruasi, kehamilan, klimakterium, menopause, dan senium. Olahraga berpotensi untuk mempengaruhi fungsi fisiologis tersebut. Olahraga dan aktivitas fisik lain secara umum dapat mempenagruhi fiisiologi reproduksi wanita. Olahraga dengan intensitas sedang sangat dianjurkan untuk mendukung fungsi fisiologi reproduksi wanita, sedangkan olah olahraga dengan intensitas yang sangat tinggi serta aktivitas sedentary akan menghambat/mengganggu fungsi reproduksi wanita.

 

DAFTAR RUJUKAN

Alissio, H. M., (1993).” Exercise-induce Oxydative Stress”. Medicine and Science in Sport and Exercise; Vol. 25, Nu. 2, p.p. 218-228.

Alison Clark-Stewart and Joane Barbara Koch; (1983). Children Development through Adolescence; John nad Willey & Sons, Inc. USA.

David, A. H.; (1984). The Biomedical Basis of Gerontology; John Wright PSG. Inc.; 545 Great Road, Littleton, Massachussets 01460, USA.

Ji, L. L.; (1993). “Antioksidant Respon to Exhaustic and Aging”. Medicine Science in Sport and Exercise; Vol. 25; Nu. 2: 225-231.

Margarete, S.; (1981). Women, Health, and Choice; Prentice Hall, Inc., Englewood Clifft, N. J.07632.

Muzayyanah, (2002). Periodisasi Kenhidupan Perempuan: Presentasi Ilmiah.

Swasta, Eka, Reproduksi Wanita: Jurusan Pendidikan Kesehatan dan

Rekreasi FIK UNY

The 1984 Olympic Scientific Conggress Proceeding; Vol. 5: 1986;” Sport and Aging”; Human Kinetic Publishing, Inc. Champaign llinois.

Wells Chitine, L.; (1985). Medicine and Science in Sport and Exercise; The American College of Sport Publisher, Inc. Box 5076, Compaign, IL 61820.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s